Aksi Tolak Omnibus Law Diwarnai Kericuhan, Tim Paramedis Kewalahan
BERITA

Aksi Tolak Omnibus Law Diwarnai Kericuhan, Tim Paramedis Kewalahan

Surabaya (9/10) – Kamis, (8/10) Ribuan massa yang terdiri dari buruh, mahasiswa dan pelajar penuhi wilayah Gedung Negara Grahadi dan Kantor DPRD Jatim untuk melakukan aksi tolak Omnibus Law.

Para buruh yang tergabung dalam Getol (Gerakan Tolak Omnibus Law) mulai berkumpul di Bundaran Waru Siang hari pukul 12.00 WIB. Kemudian mereka mulai menuju Gedung Negara Grahadi sekitar pukul 12.30 WIB. Namun saat tiba di wilayah aksi tolak Omnibus Law, pukul 13.00 WIB sebagian besar dipadati oleh massa dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Pada sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB aksi demonstrasi diwarnai kericuhan. Banyak oknum demonstran yang menyalakan petasan, aksi pelemparan batu dan perusakan fasilitas umum seperti  membakar pembatas jalan di depan Gedung Grahadi. Sehingga banyak massa yang berhamburan menjauh dari Gedung Grahadi. Saat kondisi sudah tidak lagi kondusif, beberapa kali aparat kepolisian mulai melempar gas air mata ke arah demonstran. “Untuk awal mula ricuh saya gak tahu, soalnya Pas ricuh saya langsung lari gara-gara ada tembakan gas air mata.” Tutur salah satu mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya. Menurut kesaksian salah satu mahasiswa, juga terdapat peluru karet yang ditembakkan oleh pihat aparat.

Banyaknya demonstran yang terluka karena gas air mata membuat tim paramedis mulai kewalahan. Kebanyakan korban berasal dari berbagai kalangan. Korban mengalami sesak napas, mata bengkak, tangan berdarah hingga ada yang tidak sadarkan diri. “Penanganan dari paramedis kalo luka ringan diobatin sendiri kayak luka tangan berdarah, jatuh, kita bisa nanganin sendiri. Kalau sesak napas yang sampai gak sadarkan diri dibawa ke Rumah Sakit.” Ungkap Desmont, salah satu anggota tim paramedis.

Obat-obatan dan alat yang disediakan pada awalnya tidak mencukupi sehingga, tim paramedis langsung menambah stok untuk kebutuhan tersebut. “Untuk obat-obatan itu kita kewalahan sebenarnya. Jadi, jam 3 sampai setengah 4 masih kehandle. Tapi pas jam 4 itu kita gak bisa jadi kewalahan dan harus beli lagi.” Jelas perempuan yang berkaos hitam itu. Namun, dalam penanganannya, tim paramedis yang berjumlah 70 hingga 80 orang dibantu oleh FKUHT (Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah) dan FKUNUSA (Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya). “Cuman beberapa aja sih. Tapi sangat membantu karena dari tenaga medis langsung.” Pungkasnya.

(Izz)

Post Comment