Aksi Tolak Omnibus Law : Mimbar Rakyat Digelar
BERITA

Aksi Tolak Omnibus Law : Mimbar Rakyat Digelar

(11/3) Keputusan pemerintah untuk melakukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law memunculkan kecaman dan kontroversi dalam masyarakat. RUU yang ramai diperbincangkan adalah RUU Cipta Kerja dan RUU Perpajakan. Kedua RUU tersebut dianggap pemerintah akan menunjang investasi juga perekonomian negara. Tetapi para buruh banyak menolak RUU tersebut karena di dalam RUU tersebut ada pasal-pasal yang tidak disetujui.

Pasal 170 RUU Cipta Kerja, menjelaskan bahwasannya  presiden dapat mengubah UU melalui PP. Selanjutnya pasal 89 poin 22 tentang hari kerja dimana masa kerja buruh menjadi enam hari, pasal 89 poin 20 tentang lembur, pasal 89 poin 24 upah minimum, pasal 89 poin 45 tentang pesangon, pasal 92 tentang bonus tahunan. Sejumlah pasal yang dianggap tidak menciptakan keadilan bagi buruh nantinya.

Aksi buruh dan mahasiswa juga masyarakat Jawa Timur menggelar aksi penolakan terhadap RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Aksi penolakan tersebut dimulai jam 13.00 WIB di Bundaran Waru. Perwakilan massa aksi yang berasal dari berbagai organisasi buruh maupun mahasiswa melakukan orasi penolakan Omnibus Law. Massa aksi dengan serentak menyanyikan berbagai jargon seperti Tolak Omnibus Law! Hingga Omnibus Law Janc*k!

Aksi kemudian berjalan ke frontage Ahmad Yani bagian Barat untuk melakukan orasi, konsolidasi dan penutupan. Di titik kedua ini, masa mengadakan orasi bergantian dari masing-masing elemen yang diberi nama “Mimbar Rakyat”. Dilanjutkan dengan konsolidasi dan deklarasi aksi yang dibacakan diatas mobil komando.

”Kami aliansi Gerakan Tolak Omnibus Law (GETOL) Jawa Timur dengan ini memerintahkan dengan tegas kepada Presiden DPRRI untuk membatalkan pembahasan rancangan UU Omnibus Law. Dan kami aliansi GETOL menyerukan pada seluruh elemen masyarakat untuk melakukan perlawanan apabila presiden dan DPRRI masih melanjukan rancangan UU Onmibus Law, Surabaya 11 Maret 2020 tanda tangan Gerakan Tolak Ombnibus Law.”

Massa menuntut untuk pembatalan rancangan UU Omnibus Law kepada pemerintah dan DPR RI. Jika seruan masa tidak ditanggapi, aksi ini akan dilanjutkan kembali tanggal 23 Maret 2020. Aksi susulan akan dilakukan dengan masa yang lebih besar serta mengajak para buruh untuk mogok nasional. Begitupun mahasiswa diajak untuk mengosong kan kelas-kelas untuk ikut andil dalam aksi tolak Omnibus Law. Pukul 16.30 aksi ditutup dengan lantunan musik jalanan yang dimainkan diatas mobil komando.(Ay)

Post Comment