Kaki menapak jalan setapak Berjalan kesepian Punggungmu menaruh harapan Relung jiwa-jiwa rapuh Jiwa-jiwa luluh Tabung harapan serta impian Esok datang kebahagiaan Senyum wajah anakmu Senyum wajah ibumu Diperantauan bertarung nasib…

Sudahlah Jangan menafikan lagi Realitas dewasa ini Bahwa plutokrat semakin gemuk di negeri ini Hey bung! Camkan baik-baik Kami tidak buta pun tuli Kritik Dianggap oposisi Mengapresiasi Dianggap tidak berasio…

Oleh sanjunisme* Sudah pucat jejak kakimu, sedang suara gagak tak henti mengalun sendu Doa-doa kerap terdengar di sepertiga malam menjelang menang. Tujuh hari tanpa permisi orang-orang menghampiri. Putih-putih berserak sendal…

Oleh sanjunisme* Aku mengingat setiap jengkal tubuhmu, dalam buku, dalam saku, dalam setiap debu di sudut kusen pintu. Aku menghafal suara tawamu, di kereta, di bus kota, hingga trotoar dengan…

Oleh: Akbar T. Mashuri* Sudah sangat lama aku memendam rindu kepadamu, tetapi kamu masih lama kembali dari luar negeri. Musim terus berganti, meski di Indonesia musim berganti dua kali, tetap…

Oleh: Akbar T. Mashuri* Umurku sudah tidak lama lagi, kurang lebih 6 bulan aku berada di bumi. Masih tersisa rindu, bahagia, serta bagaimana luka harapan yang membuatku hidup sampai sekarang.…

Oleh: Moh. Roif* Menuntun langkah di kota istimewa Yogyakarta adalah impian Ariza, yaitu dengan menjadi mahasiswi di salah satu universitas di sana. Namun hal itu sepertinya mustahil bagi Ariza yang…

Wanita(mu) Tidak Bodoh Oleh: Narindra Krisna* Tidak sayang, wanita tidak bodoh. Saat mereka tetap membalas pesanmu, Sepersekian detik cepatnya, hingga dini hari lamanya, Wanita(mu) tidak bodoh. Tidak sayang, wanita tidak…

Oleh Narindra Krisna* Kisah ini merupakan kisah nyata dari orang tua penulis. Didedikasikan untuk Ibu, memperingati Hari Ibu 22 Desember 2018. Deras sekali. Terguyur habis aspal dengan lumpur menggenang di…