Klarifikasi Dugaan Pembajakan Buku “Menjerat Gus Dur”
BERITA

Klarifikasi Dugaan Pembajakan Buku “Menjerat Gus Dur”

Klarifikasi Dugaan Pembajakan Buku “Menjerat Gus Dur”

Rabu, 19 Februari 2020, Kasus dugaan pembajakan buku “Menjerat Gus Dur” yang ramai diperbincangkan di akun media sosial penulis pada 9 Februari lalu menemui titik temu. Hari ini Virdika Risky Utama selaku penulis dipertemukan dengan oknum yang diduga mengedarkan buku bajakan karyanya di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Awal Dugaan Pembajakan

Pada 9 Februari 2020 lalu telah beredar berita dugaan pembajakan buku “Menjerat Gusdur” yang bermula dari postingan Virdika di akun media sosialnya. Ia menyatakan bahwa dirinya sebagai penulis  tidak pernah mengizinkan orang lain untuk mencetak ulang buku tersebut. Ia juga menyebutkan akun pihak terkait yaitu Nova Nhdyani, sebagai aktivis mahasiswa sayap NU yang tidak sepantasnya mengedarkan buku bajakan. Dalam postingan tersebut disertakan pula bukti berupa screenshoot yang berisi penawaran buku “Menjerat Gus Dur” dengan harga miring serta chat Whatshapp Nova Nhdyani dengan pembeli.

Postingan Virdika di akun media sosialnya tersebut langsung dibanjiri komentar dari para netizen. Mayoritas mengungkapkan kekecewaan terhadap perlakuan dugaan pembajakan buku, dilengkapi dengan kata-kata penguatan untuk penulis.

Respon Penulis

Buku “Menjerat Gus Dur” membahas tentang tokoh besar Indonesia, Abdurahman Wahid atau lebih sering disapa Gus Dur. Kiprahnya di bidang keagamaan dan politik membuat namanya dihormati dari sabang sampai merauke hingga negara luar. Sebagai Presiden ke-4 Indonesia dan juga tokoh besar NU (Nahdlatul Ulama) Indonesia. Virdika sebagai penulis merasa kecewa terhadap pembajakan atas bukunya. Lebih-lebih buku bajakan tersebut dipasarkan oleh aktivis mahasiswa dari kalangan NU.

“Kami tau buku ini dibajak. Tapi yang mengecewakan aktivis mahasiswa yang punya afiliasi dengan NU terlibat dalam itu.” Terang Virdika saat diwawancarai via chat instagram.

Dalam wawancara yang dilakukan pada 10 Februari tersebut, Virdika mengungkapkan bahwa satu-satunya penerbit buku “Menjerat Gus Dur” adalah Numedua Digital Indonesia. Sedangkan reseller resmi yang ia ketahui yaitu Islami(dot)co, Akal buku, Mojok(dot)co, Toko_nu dan Rizalmubit.

Ia juga menjelaskan tindakan awal yang dilakukan oleh pihaknya ialah penerbit melaporkan kasus ini pada kepolisian. Beserta pengumpulan alat bukti, Ia berharap keterangan  dari terduga dapat mengarah kepada pelaku pembajakan yang sesungguhnya.

“Semoga nanti keterangan-keterangan dari terduga bisa mengarah ke pelaku yang lebih besar. Karena ini seperti fenomena gunung es.”

Virdika beranggapan bahwa dengan diketahuinya salah satu oknum berasal dari UINSA, dia berharap UINSA menjadi pintu masuk untuk menguak oknum-oknum lainya yang melakukan pembajakan buku. Selain kasus yang melibatkan Nova selaku mahasiswa UINSA, juga banyak toko online yang memperjualbelikan buku-bukunya dengan harga miring. Virdika telah menangani masalah tersebut dengan melaporkan kepada pihak marketpalce-nya.

Pembajakan Melanggar Hak Cipta

Peristiwa pembajakan buku bukanlah suatu hal yang baru di dunia akademisi. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UINSA, Mhd.Abduh menerangkan mengenai hak cipta yang terkait dengan pembajakan. Ia menerangkan,sesuai dengan Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta bahwa yang dimaksud dengan  pembajakan adalah “ Penggandaan ciptaan dan/atau produk Hak Terkait secara tidak sah dan pendistribusian  barang hasil penggandaan dimaksud secara luas untuk memperoleh keuntungan ekonomi”

“Ada perbedaan prinsip pada penggandaan dan pembajakan. Kalau penggandaan itu adalah menggandakan untuk kepentingannya sendiri. Kalau pembajakan prinsipnya adalah ada kepentingan komersial.” Tegas Praktisi Hukum tersebut.

Terkait dengan adanya pembajakan buku yang diduga dilakukan oleh mahasiswa, ia mewanti-wanti apakah benar melakukan pembajakan atau ternyata sudah mempunyai perjanjian lisensi.

“Intinya, menggandakan buku dengan kepentingan komersial tersebut kalau ada surat lisensinya maka ia tidak dapat digugat.”

Surat perjanjian lisensi menjadi syarat sahnya menggandakan buku dengan komersial. Surat ini dapat dibuat oleh penulis sendiri ataupun oleh penerbit penulis untuk melakukan perjanjian beruapa lisensi kepada pihak lain. Surat ini yang menjadi bukti bahwa ia menggandakan serta menjual dengan legal.

“Pastikan dulu punya lisensi atau tidak.” Terangnya saat ditanyai terkait kasus dugaan pembajakan buku di UINSA.

Virdika bertemu Nova

Rabu, 19 Februari 2020, Virdika datang ke UIN Sunan Ampel Surabaya dalam acara bedah buku “Menjerat Gus Dur” yang diadakan oleh PMII Rayon Fakultas Usuludin dan Filsafat bersamaan dengan pelantikan kader baru PMII.

Solidaritas berhasil mewawancarai Virdika setelah acara pelantikan tersebut berakhir. Virdika yang saat itu mengenakkan kemeja biru dan celana krem menjelaskan kelanjutan kasus pembajakan buku. Ia menyatakan bahwasannya pihak penerbit sudah dihubungi oleh pihak yang bersangkutan seperti senior-senior PMII dan juga pihak rektorat sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan kepada penerbit. Permintaan maaf juga sudah disampaikan penerbit kepada Virdika secara formal.

“Penerbitnya kan Mas Safi’ Ali, dihubungkan dengan senior-senior PMII dan Rektor minta maaf. Belum ke saya. Tapi secara formal mas Safi’ sudah menyampaikan ke saya. Yaa gak masalah.” Terang Virdika

Selesai acara di gedung SAC, Virdika dipertemukan dengan Nova melalui perantara Kholili selaku petinggi PMII di UINSA. Menurut Kholili, Nova menceritakan kronologis kejadiannya bahwa sebenarnya ia tidak mengetahui tentang pembajakan buku itu, Ia hanya membantu teman untuk mempromosikan buku.

“Ia hanya membantu temannya mempromosikan atas dasar ketidaktahuan kalau itu buku bajakan.” Jelas Kholili. Hal tersebut dapat diterima dan dimaklumi oleh Virdika. Namun pengakuan tersebut belum bisa membuka kedok pelaku pembajakan sesungguhnya. Tetapi ia tetap menelusuri melalui pihak berwajib.

Virdika juga menceritakan perihal dosen yang membawa buku bajakan untuk dimintakan tanda-tangan kepadanya. Ia menyayangkan, untuk sekelas dosen tidak mengetahui bahwa buku yang dibawanya adalah bajakan.“Kita juga perlu pendidikan literasi, bukan sekedar baca tulis, tapi tau itu asli atau bukan. Kemudian bisa menghargai kerja-kerja intelektual.” Tutup Virdika diakhir wawancara. (ay/yn)

 

Post Comment