Membayar UKT dengan Recehan, Bentuk “Apresiasi” Mahalnya Biaya Kuliah
FEATURES

Membayar UKT dengan Recehan, Bentuk “Apresiasi” Mahalnya Biaya Kuliah

mediasolidaritas.com – Pemuda berkemeja putih itu terlihat sibuk mempersiapkan sekantung uang koin sembari menunggu antrian namanya dipanggil. Ghofari namanya, usia 19 tahun, seorang mahasiswa aktif semester dua Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Mahasiswa Porgram Studi (Prodi) Hukum Keluarga tersebut berniat membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) menggunakan uang recehan. Sembari duduk tanpa beralaskan apapun di depan kantor BTN cabang UINSA, Ghofari memulai kisahnya kepada tim Solidaritas siang itu.

Ghofari Fairuz atau yang kerap disapa Ghofari ini diterima di Prodi Hukum Keluarga lewat jalur UMPTKIN. “UKT saya 4 jutaan kurang dikit lah”, ujarnya. Nominal yang menurutnya cukup besar membuat dirinya sedikit keberatan. Namun dengan tekad kuat untuk berkuliah, Ia pun tetap mengambil prodi tersebut.

Sebenarnya upaya banding UKT sudah ia layangkan ke bagian rektorat bersama beberapa mahasiswa kurang mampu lainnya. Namun, pihaknya merasa dipersulit dengan beberapa persyaratan yang diberikan pihak rektorat.  Seperti adanya lampiran foto rumah yang dianggapnya tidak cukup relevan dan mudah untuk dipalsukan. “Karena kan banyak tuh yang belum tentu itu rumahnya, bisa aja itu rumah peninggalan atau rumah tetangganya”, ungkapnya dengan raut wajah serius.

Bersama kedua temannya, Ghofari membeberkan motivasinya untuk tetap lanjut berkuliah walau dengan UKT yang cukup tinggi. Perpisahan yang dialami oleh kedua orang tuanya semenjak beberapa tahun lalu, menjadikan dia berniat memasuki Prodi Hukum Keluarga. “Ketika saya dengar kata keluarga, langsung ada ikatan batin gitu”, ungkapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca. Ia ingin belajar banyak untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam keluarga. Sehingga tidak perlu ada lagi yang yang harus bernasib sama seperti dirinya.

Ghofari tak mau berpangku tangan atas keadaan ekonomi yang menimpa keluarganya. Diusianya yang terbilang masih remaja, beban hidup yang ia terima cukup besar. Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia mengambil  job sebagai Freelance Stand Up Comedy-an di kafe-kafe sekitar Surabaya. “Orang tua juga yang kerja cuma satu, terus adik juga ada tiga”. Ghofari berharap pekerjaan lepasnya tersebut setidaknya bisa memenuhi kebutuhan pribadi dan adik-adiknya.

“Manusia hanya bisa berencana, namun, Tuhan yang menentukan” Pemuda tersebut mengutip salah satu ayat di Al Quran. Saat memasuki semester dua, untuk membayar UKT saja orang tuanya sampai menggadaikan BPKB (Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor) sepeda motornya dan ia pun turut memecahkan celengannya. Alhasil tabungan telah ia kumpulkan selama beberapa tahun tandas demi melanjutkan kuliah.

Di penghujung batas herregistrasi pembayaran, Ghofari berniat membayar kan UKT-nya dengan menggunakan uang koin senilai empat juta rupiah. Dari mulai uang koin senilai 100 rupiah hingga 1000 rupiah ia kumpulkan dan diberi selotip untuk mempermudah penghitungan. Namun, saat melakukan pembayaran, Ghofari sempat mendapatkan penolakan dari teller bank BTN “Masnya bisa tuker dulu uangnya di Uinsamart”. Meski sempat sedikit berdebat, ia pun memutuskan untuk mengalah dan menukarkan uang koin tersebut terlebih dahulu.

Tujuan utamanya membayar dengan uang koin merupakan bentuk sarkasme terhadap UKT UINSA yang mahal. “Ini adalah bentuk sindiran kepada birokrat kampus, karena mahalnya UKT tidak sesuai dengan yang diterima.” Pasalnya dia merasa fasilitas yang ia terima tidak sebanding dengan UKT yang dia keluarkan. “Contohnya saja ruang kelas yang digunakan sebagai aula, seharusnya kan aula ada sendiri.” Selain itu, Ghofari juga protes terhadap perpustakaan fakultas yang sebelumnya diinformasikan ada namun nyatanya tidak.

Harapan besarnya kedepan agar pihak kampus tidak lagi mempersulit mahasiswa yang ingin melakukan banding UKT. Selain itu juga memberikan kebijakan yang tepat sasaran sehingga dapat meringankan mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam ekonomi. Ia juga berharap pihak kampus tidak memberatkan soal pembayaran UKT, “Buat apa dinaikkan UKT-nya tapi fasilitasnya masih belum memadai” imbuhnya. Ghofari berharap perjuangannya untuk melanjutkan perkuliahan bisa menjadi refleksi baik kepada birokrat kampus maupun mahasiswa lain. (rul/ais/ala)

Post Comment