Pemilu Raya DEMA FSH: Mahasiswa Banyak yang Tidak Tahu
BERITA

Pemilu Raya DEMA FSH: Mahasiswa Banyak yang Tidak Tahu

Senin, 24 Februari 2020, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) sedang mempersiapkan pemilu raya ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA)  yang akan dilaksanakan keesokan harinya, Selasa 25 Februari 2020 di Lobi FSH.

Berdasarkan Keputusan  Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 4961 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaann Pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam bahwa tugas dan fungsi DEMA Fakultas adalah pelaksana harian kegiatan mahasiswa di tingkat fakultas dan berkewajiban melaksanakan garis-garis besar program mahasiswa fakultas. Dema memiliki hak otonomi dalam kegiatan internal fakultas.

Sistem pemilihan ketua DEMA menggunakan sistem terbuka dengan suara yang terbanyak yang akan menang. Seperti pemilu pada umumnya, prosedur dimulai dari datang membawa Kartu Tanda Mahasiswa, mengisi daftar hadir, mencoblos surat suara, memasukkan ke kotak suara, kemudian memasukkan jari ke tinta pemilu.

“Sistem pemilihan yang digunakan adalah sistem terbuka dimana nama calon yang diajukan ketehaui secara umum dan dipilih langsung oleh mahasiswa FSH,” Ungkap Ainul selaku ketua Kopurwadi.

Komisi Pemilihan Umum Raya Mahasiswa Distrik (Kopurwadi) merupakan badan yang dibentuk ketika Kongres Besar Mahasiswa Fakultas (KBMF) untuk ditugaskan membuat dan mengatur pemilihan umum ketua Senat Mahasiswa (SEMA) dan pemilihan ketua DEMA.

Menurut Ketua Kopurwa, sosialisasi diakan melalui dua jalan, yakni media online dan offline. Online dengan menyebarkan ke grup-grup Sema dan Dema serta akun instagram. Untuk Offline mendatangi kelas-kelas mahasiswa untuk melakukan sosialisasi pada tanggal 19 Februari 2020. Kopurwa juga mencantumkan dokumentasi sosialisasi offline.

Pasalnya dari 10 mahasiswa FSH yang berhasil diwawancara, 2 diantaranya benar-benar tidak mengerti tentang diadakannya pemilu ketua DEMA. Selebihnya mengetahui dari akun instagram Dema FSH dan postingan dari Kakak tingkat. Tidak ada yang menyatakan mengetahui sosisalisasi dalam kelas.

 

Pengetahuan mahasiswa tentang calon pun juga  sangat minim. Dari 10 mahasiswa hanya 3 orang yang mengetahui siapa nama calon yang maju. Tetapi kesemuanya tidak mengetahui tentang kualitas para calon. Mereka mengungkapkan akan memilih berdasarkan suara hati.

“Sudah tau dari foto doang, kalo orangnya asli belum pernah ketemu. Nanti berdasarkan kata hati,” Terang Suci, mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara semester 4.

Ketua Kopurwadi menganggap hal tersebut adalah kewenangan dari masing-masing paslon untuk berkampanye. “Masalah kampanye itu kita sudah memberi waktu tiga hari. Untuk kemaksimalan paslon untuk berkampanye, online atau offline ya kan tergantung hak mereka maksimal atau tidak. Yang penting Kopurwa sudah memberi jangka waktu tiga hari,”

Rufiati, mahasiswa Prodi Hukum Keluarga semester 4 mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui tentang acara pemilihan ketua DEMA. Ia sama sekali tidak tau siapa pasangan calon yang maju, kualitas calon, di mana dan kapan pemilihannya. Ia berharap untuk Kopurwa kedepannya dapat melakukan sosialisasi lebih baik. “Kalo bisa, tahun depan itu nggak apa ya, nggak di share di ig aja, kalau bisa tu dateng ke kelas atau ada poster di madingnya biar semua bisa memilih juga. Kan ini juga hak semua orang kan, terus kalau semua gatau terus siapa yang mau milih, pasti orang-orang tertentu aja yang mereka udah paham,” (yn/adm)

Post Comment