Rahmatan Lil Alamin Sebagai Solusi untuk Konflik Papua
BERITA

Rahmatan Lil Alamin Sebagai Solusi untuk Konflik Papua

mediasolidaritas.com – Kamis (5/9), belakangan ini Indonesia sedang digemparkan oleh kasus Papua. Dari unjuk rasa hingga ke kerusuhan di Manokwari dan Sorong. Kasus ini terus berlanjut dan terus berlarut. Sebagai wujud dari kepedulian pemuda terhadap Papua, LPM Solidaritas bekerjasama dengan Front Nahdliyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Surabaya menyelenggarakan diskusi. Acara ini diselenggarakan di pelataran SAC UIN Sunan Ampel Surabaya, dan dibuka untuk umum.

Acara yang dimulai pada pukul 14.00 tersebut menghadirkan tiga pembicara dari kalangan yang berbeda. Pembicara pertama adalah Muhammad Saleh dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya. Pembicara kedua, Inma’ul Mushoffa dari Intrsans Insitute. Serta terakhir oleh Muhammad Al Fayyadl dari FNKSDA Surabaya.

Diskusi ini mengusung tema “Rahmatan Lil Alamin untuk Papua”. Salah satu pembicara, Muhammad Al Fayyadl menegaskan bahwa tujuan diadakannya acara ini bukan untuk memanas-manasi keadaan Papua. Tetapi untuk menemukan solusi-solusi untuk Papua melalui pemahaman Rahmatan Lil Alamin.

Diskusi berlangsung dengan pemaparan yang sistematis. Pembicara pertama menguraikan mengenai keadaan Papua pada saat ini. Lalu ditambahkan landasan hukum Indonesia yang berlaku. Ia mengungkapkan bahwa pada Undang-undang (UU) no. 40 Tahun 2008 tentang  Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, menjadi bukti bahwa di Indonesia sendiri sebenarnya rasis itu sudah diatur. Begitu juga dalam UU HAM yang cuplikan isinya adalah Setiap bangsa, orang, berhak menentukan nasibnya sendiri.

Materi kedua dilanjutkan oleh Inma’ul Mushoffa, menguraikan tentang sejarah Papua ada Indonesia. Materi ini berkaitan dengan akar permasalahan Papua yang disebabkan dari masalah dahulu yang dianggap belum selesai. Garis besar dari sejarah Papua adalah perjanjian New York yang dianggap belum tuntas, mengenai bergabungnya Papua dengan Indonesia.

“Jadi soal papua ini akan selamanya tidak jelas kalau yang menjadi akar persoalannya, menurut saya persoalan ini adalah status politik,” ungkapnya sambil melirik ke moderator.

Sedangkan Muhammad Al-Fayyadl mengungkapkan bahwa Papua adalah korban dari problematika tahun 60an sampai sekarang.

“Adanya diskriminasi terhadap Papua, rasisme, dan perampasan sumber daya alam,” jelasnya sambil memegang micrphone yang tak lepas dari tangannya.

Lanjutnya Papua merupakan tanah yang kaya. Tetapi menjadi daerah yang miskin karena adanya perjanjian penanaman modal Asing.

Sedangkan solusi yang ditawarkan adalah sebagai bangsa Indonesia memiliki keberanian untuk menerima Papua apa adanya. Tanpa ada rasisme dan diskriminasi. Memberikan Papua untuk menaturalkan dirinya, diberikan kesempatan mengungkapkan apa yang Papua inginkan. Selain itu pendekatan militer dianggap kurang cocok untuk masalah Papua. Diperlukan pedekatan humanis, bukan dari versi penguasa. Tetapi sesuai kenyataan yang dialami Papua.

Sedangkan menurut Safira selaku peserta diskusi, kasus rasisme memang sering dialami oleh mahasiswa Papua. Hal ini diakibatkan dari sterotip buruk yang tertanam bila mendengar sesuatu mengenai Papua.

“Sampai sekarang pun, sebgian besar banyak yang memandang ras Papua masih dalam keterbelakangan,” tandas mahasiswi semester 7 tersebut.(yn)

 

Post Comment