Seperti Apa KIP Kuliah untuk Mahasiswa?
BERITA

Seperti Apa KIP Kuliah untuk Mahasiswa?

mediasolidaritas.com – Sejak kurang lebih sepuluh tahun, Bidikmisi berdiri memberikan dana pendidikan bantuan bagi  pelajar Indonesia dengan berprestasi dibidang akademis/non-akademis serta tergolong keluarga  kurang mampu. Bermula dari KIP (Kartu Indonesia Pintar) yang berlaku di bangku sekolah wajib belajar dua belas tahun yakni SD, SMP dan SMA  dengan ketentuan seorang siswa menempuh belajar di bangku sekolah berasal dari keluarga tidak mampu dan dibuktikan dengan adanya SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dari RT/RW kelurahan lalu  mereka didaftarkan nantinya. Lalu diseleksi oleh sekolah kemudian diajukan ke Dapodik sebagai penerima KIP.

Pada tingkat lebih tinggi, adanya Bidikmisi ini sebagai bentuk pendanaan lanjutan dijenjang perguruan tinggi. Saat ini Bidikmisi mulai bergeser digantikan dengan KIP Kuliah. Dengan aturan peserta didik wajib memiliki KIP sewaktu di sekolah lalu kartu tersebut dapat didaftarkan ke PTN/PTS  yang dipilih dengan akreditasi A/B  begitu juga dengan jurusan yang  dipilih. Kemudian saat sudah diterima di perguruan tinggi tersebut, baru KIP dapat diajukan ke KIP Kuliah yang bersangkutan dengan perguruan tinggi untuk dilakukan peninjauan lebih lanjut tentang ekonomi keluarga saat itu juga. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan keakuratan informasi agar semasa penerimaannya bisa diberikan kepada orang yang tepat.

Namun, masih ada beberapa sebuah ketetapan peraturan yang pasti, membuat simpang siur berita yang didapat. Hal itu bisa saja mungkin terjadi perubahan konsep yang sudah dibangun oleh AMBISI (Aliansi Mahasiswa Bidikmisi) untuk bisa menyesuaikan dengan KIP Kuliah.

“Sedikit kecewa dengan pemerintah jika harus ada pergantian, walaupun Bidikmisi dan KIP Kuliah memiliki makna yang sama, beasiswa dari pemerintah. Namun jalannya nanti bisa saja berubah jika diibaratkan itu seperti ruhnya berbeda”, ungkap Ikmalur Rosyidin sebagai ketua umum AMBISI periode 2019/2020.

KIP kuliah rencananya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah, bertujuan untuk mendapatkan informasi terbaru tentang keadaan ekonomi peserta didik agar apa yang diberikan pemerintah harapannya bisa tepat sasaran. Jadi kemungkinan dalam penerimaannya nanti dibuat seleksi lebih ketat.

Adanya perubahan tersebut Khotimah Novita Sari selaku ketua 2,  AMBISI periode 2018 berpendapat “Setiap adanya pergantian pemimpin, wajar jika ada perubahan dalam pemerintahannya. Seorang pemimpin yang ingin melakukan suatu program, mereka pasti menggunakan beribu pikiran untuk bisa mewujudkan. Lalu tentang Bidikmisi ini jika benar akan digantikan, selama itu membawa perubahan yang lebih baik menurut saya tidak ada masalah.”

Terbuatlah sistem baru, adanya target yang dibuat mengenai anggaran sudah pasti bisa saja mengalami perubahan nantinya. Untuk saat ini uang saku yang diberikan Bidikmisi, bagi pemerintah sendiri mereka sudah menakar sesuai standar.  Namun ternyata masih ada beberapa mahasiswa yang berpendapat tentang masih perlunya bantuan saku dari orang tua, karena  tingginya hidup di kota sebagai mahasiswa.

“Kebetulan saya sering diberi saku dari orang tua, walaupun setiap semesternya sudah dapat dari Bidikmisi sendiri. Namun seperti kita ketahui kebutuhan mahasiswa itu banyak sehingga untuk biaya hidup sendiri terkadang masih kurang. Belum diizinkan bekerja sambil kuliah jadi orang tua masih sering kirim uang saku ke saya setip minggunya seperti itu” ujar Della Ariyanti selaku sekertaris di kepengurusan AMBISI periode 2019/2020, berpendapat tentang uang saku yang berkaitan dengan kebutuhan hidup mahasiswa.

Sementara untuk mahasiswa penerima Bidikmisi angkatan 2019 ini, mereka masih mengikuti aturan Bidikmisi yang masih belaku sekarang dan sebelumnya. Konsep detail KIP Kuliah masih belum tuntas dirumuskan, sampai berita ini diterbitkan, pihak kemahasiswaan masih belum memberikan keterangan. (tin/lail).

Post Comment