Wajah Baru Generasi Milenial
OPINI

Wajah Baru Generasi Milenial

Oleh: Moh. Syafik R*

Pemuda di era sekarang ini tengah mengalami kemerosotan dari segala sisi. Hal itu dapat kita buktikan dari tiga hal yang akhir-akhir ini terus terjadi. Pertama, pemuda pengangguran di mana-mana. Kedua, fanatisme golongan terus terjadi. Ketiga, potensi penyebaran hoax selalu digandrungi.

Dapat kita lihat pemandangan yang terjadi saat jam sekolah dimulai. Banyak pemuda-pemudi yang berkeliaran di jalanan. Saat ditanya kenapa tidak sekolah? Jawabannya adalah tidak punya biaya. Keadaan ekonomi orang tua rendah, sehingga mereka tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Jika terjadi hal demikian, semestinya harus segera diatasi. Sebab, ketika melihat potensi kejahatan di jalanan sering dipelopori oleh para pemuda pengangguran.

Selanjutnya, fanatisme golongan di kalangan pemuda akhir-akhir ini sering menimbulkan kerusuhan, bentrok, bahkan tawuran antar pemuda dengan pemuda lainnya. Biasanya fanatisme golongan ini bermula dari perbedaan ras, suku ataupun asal daerah mereka tinggal. Sehingga dengan gagah dan darah yang mendidih mereka menginginkan golongan lainnya lebih lemah daripada golongannya. Berangkat dari hal itu fanatisme golongan di kaca mata pemuda saat ini masih sangat marak dan perlu untuk diatasi. Hal itu tidak hanya membunuh pada mental belajar pemuda-pemudi, tapi juga penyebab dari dekadensi moral yang sangat perlu untuk ditangani. Agar para pemuda penerus bangsa ini tetap dipercaya masyarakat dan pandangan masyarakat terhadap pemuda masih terjaga dengan baik.

Tak bisa di pungkiri, selain terus menggandrungi fanatisme golongan, pemuda milenial sekarang juga senang menyebarkan dan membuat berita bohong. Hal itu bisa kita lihat secara faktual dan media. Fakta mencatat bahwa proses penyebaran berita bohong yang marak di masyarakat dimulai dari kaum pemuda pemudi. Dengan tujuan agar dengan adanya berita bohong itu, mereka mendapatkan kepuasan, baik puas dalam keisengannya atau puas saat ia mencapai tujuannya. Secara media dapat kita lihat dari perkembangan hoaks yang terjadi di dunia maya maupun media cetak. Tentu pemandangan seperti ini sejatinya harus cepat-cepat dibersihkan di tubuh para pemuda. Apa tidak kacau bangsa ini jikalau pemuda-pemudinya suka mengumbar hoaks? Pemuda-pemudinya fanatisme golongan? Pemuda-pemudinya tidak menghargai perbedaan dan pengangguran di mana-mana?

Berangkat dari hal itu, sangat perlu adanya tidakan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di kalangan pemuda milenial saat ini. Pertama yang bisa di lakukan adalah upaya dari pemerintah untuk mengatasi pengangguran yang semakin mewabah. Salah satu solusinya adalah dengan cara menyediakan sekolah-sekolah gratis bagi pemuda yang berasal dari keluarga tidak mampu. Pemuda-pemudi di jalanan wajib sekolah. Dan tidak boleh berkeliaran saat jam sekolah. Kebijakan yang seperti ini sebenarnya yang ditunggu masyarakat. Dengan adanya kebijakan seperti ini, dengan pesat akan mengurangi angka pengangguran di negeri kita ini.

Kedua, orang tua harus menanamkan pentingnya menghargai sesama sejak dini. Dasar ideologi negara bernama Pancasila tentu perlu juga ditanamkan bagi benih pemimpin bangsa ini. Karena dengan itu akan menjadi solusi dari maraknya fanatisme golongan yang terus terjadi. Dengan kuat jika sudah tertanam menghargai sesama maka dengan lapang dada pemuda pemudi akan aman. Tidak ada fanatisme golongan di antara mereka. Bahkan, jika sampai ideologi pancasila tertanam dengan lekat di dalam jati diri pemuda sekarang ini, tidak mungkin lagi ada perselisihan di atara mereka. Tawuran akan terkurangi. Balapan liar pun akan teratasi. Toleransi pun terjadi.

Ketiga, potensi penyebaran hoaks secara faktual dan media di kalangan pemuda dapat diatasi dengan ketegasan hukum. Pemerintah harus memberikan punishment yang wajar terhadap pelaku hoax dan yang menyebarkannya. Penyebaran yang dilakukan secara fakta sosial, maupun penyebaran hoax di dunia maya. Kedua hal itu sangat perlu untuk ditindak. Salah satu penindakannya adalah dengan cara memberikan punishment tersebut. Dengan kebijakan seperti itu pemuda yang suka menyebarkan berita bohong akan tertahan oleh hukuman yang dijanjikan. Sehingga, mereka merasa takut untuk menyebarkan hoax, apalagi membuatnya.

Dengan adanya sinergi dari pemuda, pemerintah dan orang tua, maka akan lahir pemuda-pemudi ibu pertiwi ini dengan wajah baru. Wajah perubahan. Bersih dari pengangguran. Tak ada lagi fanatisme golonga, dan yang terpenting, berita hoax akan bersih di media. Para pemuda harapan bangsa akan lahir kembali. Para calon pemimpin di masa depan. Pemimpin yang segar. Yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

 

*Mahasiswa semester 4 UIN Sunan Ampel Surabaya

Sumber gambar: Freepik

 

Post Comment