Bagaimana Islam Memandang Tradisi Ziarah Kubur Setiap Menjelang Ramadan?
Source picture : rumahzakat.org
INFO RAMADHAN

Bagaimana Islam Memandang Tradisi Ziarah Kubur Setiap Menjelang Ramadan?

MediaSolidaritas.com – Menjelang bulan ramadan tempat pemakaman umum setempat sudah pasti ramai dikunjungi peziarah. Para peziarah berdatangan baik dari daerah setempat maupun luar daerah untuk berziarah ke makam sanak saudaranya yang telah wafat.

Lantas, bagaimana sebenarnya islam memandang konsep budaya berziarah sebelum ramadan ini?

Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) Fahrur Razi memaparkan beberapa keutamaan berziarah kubur, diantaranya: melembutkan hati, mengingatkan kepada akhirat, dan mengingatkan kepada kematian.

“Manfaat ziarah kubur diantaranya mengingat kematian, meluluhkan hati yang keras dan kaku sehingga meneteskan air mata, dan mengingatkan kita kepada akhirat. Itu diantara faedah ziarah kubur. Kita bisa melakukan perenungan bahwa semua akan seperti orang-orang yang ada di dalam kubur (meninggal, red),” ujarnya.

Adapun tujuan dari dilakukannya ziarah kubur, selain mengingat kematian yakni sebagai sarana mengirim doa kepada ahli kubur. Sebagian golongan memercayai bahwa doa-doa yang dikirimkan akan meringankan siksa ahli kubur.

Mereka juga percaya bahwa para ahli kubur ini menunggu doa-doa yang dikirim oleh keluarganya dan mereka pun mengetahui siapa saja yang mengirim doa kepada mereka.

Pada dasarnya, tidak terdapat dasar hukum dalam islam yang mengatur secara spesifik mengenai tradisi ziarah kubur yang biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari kamis sore, menjelang datangnya bulan Ramadan dan menjelang hari raya idul fitri.

Hal ini, senada dengan yang dipaparkan oleh Zaidanil Kamil, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UINSA.

“Ziarah kubur adalah hukum umum dan dapat dilakukan kapan saja, tanpa ada keutamaan di hari-hari tertentu. Namun, tradisi masyarakat Indonesia yang sudah ada sedari dulu yang cenderung mengkeramatkan hari-hari tertentulah baik seperti malam jum’at ataupun sebelum ramadan yang mendarah daging hingga saat ini serta tidak memungkinkan untuk menghilangkan tradisi tersebut. Hanya saja, diubah pola pikir dan kegiatannya,” ujarnya.

Dipaparkan pula, mengenai beberapa adab dan tata cara berziarah kubur yang perlu diamalkan ketika berziarah, sebagai bentuk kesopananan kita terhadap tempat yang dianggap suci tersebut. Zaidanil mengatakan ada lima poin utama yang perlu diperhatikan.

“Pertama ketika sudah sampai di kuburan, mendoakan keselamatan para ahli kubur. Kedua, hendaknya tidak duduk di atas makam atau melangkahinya. Ketiga, untuk wanita hendaknya menjaga aurat serta menjaga hati agar tidak merasa emosional. Keempat, usahakan tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan dalam satu tempat. Yang terakhir, tidak boleh membawa sesajen,” ujarnya.

Dalam melakukan ziarah kubur, kerap dijumpai orang-orang yang menaburkan bunga di atas pusara. Kebiasaan seperti ini, ternyata mengacu pada perbuatan Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang cukup populer, diceritakan bahwasannya Nabi pernah menancapkan pelepah kurma basah di atas dua makam untuk meringankan siksa kubur mereka yang semasa hidupnya melakukan dosa besar.  (nad/kha)

Post Comment