Imposter Syndrom Bisa dialami Oleh Siapa Saja
Sumber: ilustrasi oleh resume.io
OPINI

Imposter Syndrom Bisa dialami Oleh Siapa Saja

Ada hal menarik dari deep talk antara Neil Amstrong dan Neil Gaiman yang pernah diundang pada acara dengan dihadiri banyak seniman, ilmuwan, penulis, dan penemu. Pertemuan ini ditulis dalam Jurnal’s Neil Gaiman: “The Neil Story”.

Neil Armstrong adalah seorang astronaut, pilot uji coba, teknisi penerbangan, profesor universitas, dan Penerbang Laut Amerika Serikat. Ia merupakan orang pertama yang berjalan di Bulan.

Neil Gaiman adalah seorang pengarang fiksi pendek, novel, buku komik, novel grafis, teater rekaman, dan film asal Inggris. Karya-karya terkenalnya meliputi serial buku komik The Sandman dan novel-novel Stardust, American Gods, Coraline, dan The Graveyard Book.

Dalam jurnalnya, Gaiman merasa semua orang hebat ini tidak lama lagi pasti akan menyadari bahwa Gaiman tidak pantas berada di antara mereka. Gaiman duduk di aula sisi paling belakang ketika hiburan musik berlangsung. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tua. Mereka bicara banyak hal termasuk fakta bahwa Gaiman dan lelaki tua ini punya nama depan yang sama – Neil. Lelaki tua ini menunjuk ke kerumunan orang-orang hebat dan berkata, “Saya melihat sekumpulan orang ini, saya berpikir, sedang apa saya di sini? Semua orang-orang itu sudah menorehkan prestasi luar biasa. Sementara saya bisa berada di luar angkasa hanya karena saya menjalankan tugas.” Mendengar ini Gaiman berkata pada si lelaki tua, “Ya. Tapi Anda adalah manusia pertama di bulan. Saya rasa itu punya arti.”

Mereka adalah sebagian orang yang mengalami imposter syndrome.

Imposter syndrome atau impostor phenomenon pertama kali diperkenalkan oleh Psikolog Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Ketika meneliti, mereka menemukan sindrom ini banyak ditemukan pada wanita cerdas dengan prestasi yang tinggi. Beberapa tahun kemudian, ditemukan bahwa laki-laki pun memiliki peluang yang sama mengalami imposter syndrome atau imposter phenomenon (Langford dan Clance, 1993).

Psikolog Klinis UGM, Tri Hayuning Tyas, S.Psi., M.A., mengatakan impostor syndrome atau impostor phenomenon merupakan fenomena psikologis di mana seseorang tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang ia raih. Dengan kata lain, mereka yang telah berhasil mencapai sesuatu sering kali merasa tidak pantas mendapatkannya.

Sampai di sini, mungkin kita bisa mempertanyakan kenapa hal ini bisa terjadi?

Hal-hal yang menyebabkan sindrom ini terjadi, adalah:

  1. Interaksi dengan orang sekitar ketika seseorang tumbuh. Misalnya dalam lingkup keluarga. Ketika pengasuh hanya mengapresiasi pencapaian atau prestasi. Hal ini dapat menghadirkan perasaan tidak cukup untuk bisa diterima atau dicintai apabila hasil yang diraih tidak sesuai.
  2. Lingkungan dengan suasana yang kompetitif. Misalnya di sekolah atau di kampus. Karena biasanya mereka yang menduduki status sebagai orang “berhasil” dalam prestasi, dianggap lebih berharga oleh orang-orang di sekitarnya. Karena ekspektasi tentang sesuatu yang dianggap berharga setiap orang itu berbeda, maka apabila ada ekspektasi yang tidak sesuai dengan sebagian orang lainnya, ia akan merasa keberhasilannya tidak dapat diterima. Meskipun, ada beberapa orang yang dapat menerimanya.
  3.  Sindrom ini lebih mudah muncul pada seseorang dengan karakter perfeksionis, sebab ia merasa belum bisa menerima sebuah pencapaian karena ada beberapa hal yang masih kurang dari dirinya.

Ada beberapa dampak positif dari imposter syndrome apabila intensitasnya tidak berlebihan. Misalnya seseorang jadi tidak mudah merasa pencapaiannya hanyalah karena dirinya saja. Selain itu, dia bisa saja menjadi seseorang yang pekerja keras. Namun, apabila intensitasnya sudah berlebihan, sindrom ini akan menyebabkan seseorang jadi menunda aktivitas yang perlu dikerjakan, karena berlebihannya perasaan cemas dan takut. Dia juga dapat melewatkan beberapa kesempatan yang bisa saja ia dapatkan.

Lalu bagaimana menghadapi imposter syndrome, yang bersifat merugikan ini?

  1. Sadari alur perasaan. Ketika perasaan itu sudah berlebihan, alangkah baiknya jika kita menerima perasaan itu sebagai perasaan saja bukan realitas. Di sini kita bisa menggunakan pola pikir bahwa realitas tidak selalu sama dengan perasaan.
  2.  Sadari bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna. Dan tentunya, itu sama dengan tidak ada orang yang mempunyai kemampuan di segala bidang.
  3. Apabila imposter syndrome sudah tidak bisa lagi dicegah atau dikontrol, alangkah baiknya untuk melakukan sesuatu dengan bantuan media lain. Misalnya, menulis sebagai media untuk memperjelas apa yang sedang dirasakan atau mengenali masalah apa yang sedang dihadapi. Bisa juga dengan mengobrol bersama orang yang dipercayai, bisa teman, keluarga, atau psikolog.
  4.  Mengakui pencapaian sebagaimana adanya.

Dengan demikian, imposter syndrome bisa merugikan apabila kita tidak mengenali apa yang menyebabkan itu terjadi dan apa saja kemungkinan konsekuensi yang terjadi, sehingga di sana akses untuk mencegahnya jauh lebih sulit. Dan apabila sudah bersifat merugikan, maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk tidak memperburuk dan memperpanjang frekuensi terjadi imposter syndrome.


Tulisan ini dari kontributor peserta bagian dari program Festival Jurnalistik 2022, acara seremonial tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas.

Susan Susanti

Post Comment