Inspire Inclusion: Perempuan dalam Mendobrak Hambatan, Menantang Stereotip, dan Mencari Peran Kepemimpinan
Picture Source: New York Latin Culture Magazine (Southwork/Adobe)
OPINI

Inspire Inclusion: Perempuan dalam Mendobrak Hambatan, Menantang Stereotip, dan Mencari Peran Kepemimpinan

MediaSolidaritas.com – Hingga kini, masih terdapat stereotip negatif terhadap perempuan. Perempuan harus terlihat cantik, perempuan lemah, cengeng, materialistis, manja, dan masih banyak lagi. Dalam konteks gender, perempuan hanya dianggap sebagai pengasuh, sementara sosok pemimpin diisi oleh laki-laki. Perempuan dianggap sebagai individu yang lemah sehingga tidak cocok menjadi seorang pemimpin.

Selain itu, perempuan juga dianggap sebagai sosok yang mudah menyerah dan lebih pasif daripada laki-laki. Bahkan dalam masyarakat, masa depan perempuan hanya sebagai pengurus rumah sehingga tidak memerlukan pendidikan yang tinggi.

Menurut Widanti (2012:98), kekhususan kondisi biologis perempuan (seperti saat haid, hamil, melahirkan, dan menyusui) juga turut berperan dalam meningkatkan labor turn over pada pekerja perempuan, sehingga pengusaha lebih memilih pekerja laki-laki ketimbang perempuan.

Lantas, apakah perempuan masih memiliki peluang dalam menantang berbagai stereotip negatif yang ada?

Untuk menjawab hal ini, tergantung bagaimana seorang perempuan membangun perspektif mengenai peran dirinya dalam masyarakat. Sebagaimana seorang laki-laki, perempuan juga berhak berperan dalam kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Bahkan, jumlah pemilih perempuan dalam Pemilu tahun 2024 sedikit lebih banyak dari laki-laki. Terdiri dari jumlah pemilih laki-laki 102.218.503 orang dan pemilih perempuan 102.588.719 orang. Data ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam pembangunan negara.

Berbagai kelompok perempuan baik dari kelompok besar maupun kelompok marginal, semuanya memiliki peran yang besar dalam mendobrak hambatan mereka di tengah-tengah masyarakat. Meskipun terdapat banyak berbagai stereotip negatif, tetapi perempuan juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.

Perempuan akan menjadi seorang ibu, di mana ibu sebagai madrasah utama anak-anaknya dan perlu memiliki pemahaman dan pengetahuan moral yang baik untuk mengajari anak-anaknya. Oleh karena itu, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk menciptakan individu yang berkualitas bagi masyarakat maupun negara.

“Perempuan itu lemah sehingga tidak cocok menjadi peran pemimpin!”

Lantas, bagaimana seorang Ibu Megawati bisa menjadi sosok pemimpin Indonesia kala itu? Bagaimana dengan sosok Kartini yang memperjuangkan hak dan kebebasan wanita?

Dalam teori progressive atau Sameness theory menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang setara dalam hal apapun. Pada dasarnya, untuk mencapai suatu posisi tertentu, seseorang dinilai dari kecakapannya bukan dari jenis kelaminnya. Dilihat dari bagaimana calon pemimpin tersebut secara bijaksana menanggapi berbagai permasalahan yang ada secara solutif. Bagaimana calon pemimpin dapat merangkul berbagai elemen masyarakat yang beragam menjadi satu kesatuan dan sosok yang dapat memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang.

Perempuan juga memiliki hak dalam memimpin dan mengambil keputusan. Terutama perempuan yang berasal dari kelompok marginal,  yang selama ini suaranya terhambat,  dipandang negatif, dan dianggap tidak memiliki kontribusi besar dalam negara.

Namun kenyataannya, dari kelompok marginal lah kita tahu apa yang masih menjadi masalah dalam kehidupan bernegara sehingga dapat menjadi acuan pemerintah dalam mengambil kebijakan. Sehingga, perempuan memiliki hak secara bebas menjadi seorang pemimpin yang dapat menyuarakan pendapat dan pengambil keputusan yang baik.

Selamat Hari Perempuan Internasional!

 

Penulis: Himmatul Aliyah

Editor: Tanaya Az Zhara

Post Comment