Kemana Arah Muara Pedagogi di Indonesia?
OPINI

Kemana Arah Muara Pedagogi di Indonesia?

Pendidikan merupakan ihwal penentuan majunya suatu bangsa. Semua  bangsa akan terus menginginkan pendidikan yang terbaik, tidak terkecuali Indonesia. Yang menjadi negara dengan padat penduduk. Berdasarkan data Worldometers, Indonesia saat ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 269 juta jiwa atau 3,49% dari total populasi dunia.

Pendidikan merupakan suatu yang semestinya integral dan holistik. Sehingga pendidikan dapat dirasakan di semua tempat, sekalipun terpencil, terjauh dan terpelosok. Semua kalangan masyarakat mempunyai hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dan lebih baik. Bukankah majunya suatu bangsa dinilai dari majunya pendidikan pada masyarakatnya? Namun pendidikan seperti apa yang dapat dikatakan maju? maju menurut siapa? Dan akan seperti apa?

Berkaca pada stereotip  pendidikan yang lebih bermutu berada di sentral, menjadikan beberapa orang berusaha membuat tempat atau lingkungan yang mendukung perkembangan kognisi dari seorang anak. Sedangkan media memberi gambaran bahwa kelayakan kehidupan itu jika mendapat pekerjaan yang layak, memiliki mobil, hidup selayaknya orang urban atau perkotaan dalam mencontohkan sebuah kehidupan. Dengan ini maka sebuah premis diciptakan. Dunia pendidikan mulai melalui fase yang diinginkan oleh pandangan tunggal, dengan mengesampingkan SDM,  SDA atau terkait pada suatu hal yang dibutuhkan.

Setelah memahami dikotomi di atas, apakah kita terbesit pertanyaan tentang pendidikan akan dibawa kemana untuk bermuara? Terombang-ambing dalam lautan dan membutuhkan keputusan yang tepat pada semua penumpang untuk menuju pada tujuan, yaitu sebuah keberhasilan untuk menemukannya dermaga yang dituju oleh penumpang.

Jika melihat teori Pedagogis dari Paul Freire yang mengkritisi tentang pendidikan, Freire mengatakan bahwa pendidikan haruslah memberi kesadaran kepada kaum marginal atau kaum tertindas untuk kritis dan mempunyai sikap skeptis terhadap apa yang telah diterimanya di sekolah atau tempat pendidikan lainnya.

Dengan 3 teori andalannya yaitu: pertama, kesadaran magis. Kesadaran pada tingkat ini membenarkan serta menerima dogma-dogma dengan realita yang ada, tanpa ada upaya memahami realitanya. Segala perkataan dan intruksi dari guru terus diikutinya tanpa ada proses untuk berdialog antar guru dan sisiwa, sehingga siswa tidak menyadari bahwa sebenarnya ia tertindas; kedua, Kesadaran Naif. Pada tingkat kesadaran ini, siswa sudah mulai gelisah dengan apa yang telah disampaikan oleh guru dan muncul keraguan-keraguan, namun ia masih belum bisa bertindak untuk menyampaikan pikirannya. Maka di sini sebenarnya ia sudah merasakan bahwa ia tertindas. Ketiga, sekaligus yang paling tinggi adalah Kesadaran Kritis. Pada tingkat ketiga ini, sisiwa sudah sepenuhnya sadar dengan ketertindasannya. Berusaha untuk kritis terhadap lingkungannya dan mengganti dengan sistem yang adil dan merdeka.

Jika melihat teori tersebut, maka yang diinginkan adalah sebuah kebebasan dalam berpikir yang tidak terdiskrimanasi, jauh dari kata terjerat, dan tidak teralokasi menjadi keinginan sebuah minoritas yang pada akhirnya bermuara pada sebuah kepentingan kelompok/minoritas tersebut. Dengan menjadi pribadi yang berdiri atas pikirannya sendiri, yakni berupaya menjadi pribadi yang memiliki kemandirian berfikir serta dapat mengekspresikan suatu hal sesuai pada keadaan dan lingkungan yang ada.

Sedangkan dalam mewujudkannya tentu tidak mudah, semua sudah bercampur dari culture, kuasa relasi, hingga sebuah sistem yang hanya akan berubah jika pemilik kebijakan merubahnya. Sebuah harapan yang diumpamakan pukulan kecil dari kaum marginal. Semoga sedikit dimengerti seperti apa kebutuhan pendidikan untuk sebuah konteksasi dan bukan sebuah alokasi. (intn)

 

 

 

 

Post Comment