Mediasolidaritas.com – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Surabaya (ABS), BEM Nusantara (BEM NUS) Jawa Timur (Jatim), dan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) JATIM menggelar konsolidasi Indonesia darurat aparat yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Hari Jumat (29/8). Dalam konsolidasi ini aliansi mahasiswa Jatim bersepakat untuk melakukan aksi demonstrasi pada Sabtu (30/8) di Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim).
Adapun tuntutan dalam konsolidasi ini, Aliansi Mahasiswa Jatim menyatakan sikap sebagai berikut :
1. Meninjau dan membatalkan kenaikan tunjangan serta gaji Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI)
2. Mendesak aparat penegak hukum untuk menghentikan segala bentuk tindakan represif terhadap massa aksi demonstrasi
3. Mengusut tuntas kasus kekerasan dan korban jiwa dalam aksi demonstrasi, termasuk meninggalnya Affan Kurniawan
4. Mendesak DPR RI dan pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Perampasan Aset
5. Tolak Rancangan Undang-undang Kitab Hukum Acara Pidana (RKUHAP)
6. Bebaskan 400 Massa aksi di Jakarta yang ditangkap oleh Polda Metro Jaya
Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINSA, Alwan Naufal Bariq menyampaikan konsolidasi ini sebagai respon terhadap hasil konsolidasi internal ABS
“Sesuai dengan kesepakatan teman-teman ABS, kemarin itu habis konsolidasi dari ABS sendiri. Hasil konsolidasinya baru disampaikan sekarang buat teman-teman semua,” terangnya.
Konsolidasi yang dilaksanakan di UINSA ini dilatar belakangi insiden yang menewaskan driver ojek online (ojol) buntut represifitas dan kebrutalan aparat kepolisian pada Kamis (28/8). Bariq juga mengutuk dan mengacam aparat kepolisian imbas dari represifitas yang terjadi beberapa hari belakangan ini,
“Saya mewakili Dema UINSA tentunya menuntut dan mengecam keras terhadap pihak kepolisian terkait insiden yang menewaskan ojol, dan juga agar demonstran yang ketangkap itu segera dibebaskan,” imbuhnya.
Muhammad Zainnur Abdillah, Koordinator BEM NUS JATIM, juga menjelaskan bahwa konsolidasi ini dipicu oleh kondisi negara yang semakin tidak menentu. Ia menyayangkan tindakan aparat yang justru merespon aspirasi rakyat dengan kekerasan.
“Demo yang awalnya menyuarakan keresahan rakyat malah dibalas represif oleh aparat. Akibatnya satu pengemudi ojol, Affan Kurniawan, menjadi korban. Kami tidak bisa diam, kami dari Jatim ikut menyuarakan apa yang terjadi di Jakarta,” tegas mahasiswa Universtas Merdeka Madiun tersebut.
Zainnur menjelaskan bahwa komunikasi antar kampus telah berlangsung melalui grup WhatsApp, Zoom Meeting, hingga akhirnya diputuskan untuk berkonsolidasi secara tatap muka di UINSA. Puncaknya adalah keputusan untuk turun aksi bersama ke Polda Jawa Timur pada pukul 08.00 WIB esok hari.
Nasrawi, Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) sekaligus Koordinator Umum ABS, menjelaskan bahwa pemilihan UINSA sebagai tuan rumah semula tidak direncanakan. Konsolidasi yang awalnya dirancang akan digelar di UMS mengalami kendala teknis yang mengharuskan berpindah tempat.
“Tadi malam kami sempat ngopi dan futsalan bareng di kampus. Kebetulan ada Wapresma UINSA, lalu ditawarkan untuk pindah ke UINSA. Akhirnya semua sepakat. Dan alhamdulillah, malam ini kita kumpul paling banyak sejak awal pergerakan,” terang Nasrawi.
Nasrawi juga menekankan bahwa Surabaya sebagai kota pahlawan harus menjadi garda terdepan dan barometer pergerakan jawa timur dalam mengawal hak-hak rakyat sipil.
“Kami yang ada di Surabaya tidak boleh diam. Ini bukan sekadar aksi emosional, tapi bentuk nyata solidaritas. Kita semua punya tanggung jawab moral, terlebih melihat bagaimana kawan-kawan kami di Jakarta masih ditahan,” imbuh mahasiswa UMS itu.
Ia berharap agar aparat kepolisian bisa lebih bijak dalam menangani aksi-aksi demonstrasi ke depannya, dan tidak bertindak berlebihan terhadap masyarakat yang menyuarakan pendapat.
Di lain sisi, Farid syihabuddin, Koordinator Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menuturkan bahwasannya pihak kampus mendukung terbukanya ruang demokrasi di lingkungan pendidikan.
“Yang penting teman-teman Dema U (Universitas, red) sudah oke semuanya nggih monggo, nek bahas masalah ruang demokrasi ya tidak apa-apa. Karena kampus itu kan tempatnya mahasiswa belajar berorganisasi maupun berdemokrasi,” tandasnya.
Penulis : Ahmad Muharrik, Bima Satrya, Naufal Hazmy
Editor : Dewi Aisyah Alya