Masjid Tertua di Surabaya, Radio Yasmara Hingga Pemanfaatan Daun Bidara
INFO RAMADHAN

Masjid Tertua di Surabaya, Radio Yasmara Hingga Pemanfaatan Daun Bidara

MediaSolidaritas.com – Kumandang azan magrib menjadi waktu yang paling ditunggu di bulan Ramadhan. Bagaimana tidak, azan magrib menjadi penanda waktu berbuka puasa setelah berjam-jam menahan lapar dan dahaga.

Salah satu masjid yang azannya sangat dinanti adalah azan dari Masjid Rahmat. Masjid tertua di Surabaya ini menjadi tolak ukur azan di seluruh masjid di Jawa Timur.

Selain berfungsi sebagai tempat beribadah umat muslim, Masjid Rahmat juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid yang berlokasi di Jalan Kembang Kuning No.79-81, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya ini sudah ada sejak zaman Majapahit dan didirikan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel bersama mertuanya yang dikenal dengan Mbah Karimah.

“Dulu di daerah sini sebagian besar beragama Hindu. Lalu Raden Rahmat mampir untuk berdakwah dan akhirnya banyak yang menganut Islam. Dibuatlah Langgar Welit sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Ibaratnya, masjid ini dulu sebagai tempat singgah Sunan Ampel,” cerita Agus Helmy Ketua Yayasan 1 Masjid Rahmat.

Seiring berjalannya waktu, bangunan yang semula berupa bilik bambu ini semakin berkembang dan diperbaharui atas prakarsa Menteri Agama Republik Indonesia Syaifuddin Zuhri pada 22 Juni 1967.

Langgar welit yang berubah menjadi masjid megah ini pun diresmikan dengan nama Masjid Rahmat dengan tujuan untuk mengabadikan nama pembangunnya.

Untuk mendukung syiar dan dakwah Masjid Rahmat, didirikanlah sebuah menara pemancar radio yang dikenal dengan Radio Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat) yang hingga saat ini masih beroperasi. Melalui radio inilah, Yayasan Masjid Rahmat konsisten untuk menjaga waktu shalat dan syiar agama.

“Dari keistiqomahan ini, Yasmara menjadi kutub pemersatu waktu salat bagi daerah Surabaya dan sekitarnya,” tutur Agus.

Selain azan dan syiar agama, Agus juga menyebutkan bahwa Radio Yasmara juga berorientasi pada kasidah, murottal, syi’ir, bahkan dangdut melayu. Radio yang mengudara dengan gelombang AM frekuensi 1152 kHz ini juga dikenal masyarakat sebagai radio pertama yang mempopulerkan Shalawat Tarhim.

Shalawat Tarhim sendiri diciptakan oleh Ketua Jam’iyyatul Qurro’ Kairo Syaikh Mahmoud Al-Hussary. Selain itu, Syi’ir Tanpo Waton atau yang biasa disebut sola-sola juga merupakan program khusus yang dimiliki oleh Yasmara.

“Radio Yasmara sangat dicintai masyarakat. Waktu itu booming Rhoma Irama, jadi kami putarkan lagu-lagunya karena memang selera masyarakat menengah kebawah. Kebetulan penyanyi tersebut juga sering berkunjung kemari sehingga penggemar semakin dekat dengan Yasmara. Pada zaman itu, kita selalu masuk dalam lima besar saat penentuan strata radio Jawa Timur,” tambahnya.

Dua tahun pandemi Covid-19 menyebabkan terbatasnya pelaksanaan kegiatan Ramadan di Indonesia. Namun, pada Ramadan kali ini, kasus Covid-19 mulai ada penurunan sehingga pemerintah sudah memberi kelonggaran. Tentunya hal tersebut membuat masyarakat antusias dan mengobati rasa rindu pada momen Ramadan.

“Di Masjid Rahmat memiliki banyak kegiatan yang tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan, seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, kultum shubuh juga ada, kultum dhuhur hingga ashar juga ada, serta bagi-bagi ta’jil minimal 300 bungkus setiap harinya dengan bantuan dan antusias masyarakat sekitar,” ujar Ketua Panitia Ramadan Masjid Rahmat 2022 Muhammad Samsul Hadi.

Tidak kalah menarik, pemberdayaan ekonomi di Masjid Rahmat juga berjalan dengan lancar. Seperti adanya mesin ATM beras dan program pemanfaatan daun bidara dengan dukungan pemerintah serta masyarakat sekitar.

“Kami ingin memperkenalkan daun bidara pada masyarakat umum. Daun bidara ini banyak sekali manfaat dan khasiatnya, seperti dapat digunakan untuk obat-obatan, masker wajah, dan sabun,” terang Ruliono Ketua 2 Yayasan Masjid Rahmat.

(nay/tir)

Post Comment