Natasya Emilya, Suara Dakwah dari UINSA ke Ibukota
BERITA

Natasya Emilya, Suara Dakwah dari UINSA ke Ibukota

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tidak pernah kehabisan talenta. Terutama di bidang agama. Baru-baru ini, talenta tersebut hadir melalui ajang Akademi Sahur Indonesia (AKSI).

Natasya Emilya Hidayat, perempuan asal Mojokerto membuat bangga dengan pencapainnya yang baru saja lolos di babak selanjutnya setelah mendapat nilai terbesar dari dewan juri.

“Wah, iya makasih,” ucapnya tersipu malu ketika disinggung soal pencapaian setelah lolos ke babak selanjutnya.

AKSI sendiri merupakan ajang kompetisi menyaring dai-dai muda untuk berdakwah. Sesuai namanya, acara ini hanya tayang pada setiap bulan ramadan pada pukul dua pagi. Saat ini AKSI telah memasuki edisi kesepuluh. Yang pada awal pertama kali tayang pada 2013.

Perjalanan Natasya dimulai pada 24 april yang lalu di tanah ibukota dalam dunia dakwah islam. Proses dari anak tunggal membanggakan tersebut tidaklah mudah, bukan dengan cuma-cuma ia dapat lolos kompetisi tersebut. Kemampuannya dalam dakwah ini ia dapatkan bukan dari seorang pelatih ataupun seorang pembimbing khusus, melainkan melalui latihan secara otodidak lewat YouTube dan melihat penampilan dari jebolan aksi terdahulu inilah yang berhasil menggiring Natasya menjadi top 24 peserta AKSI.

“Saya pertama kali tahu ada AKSI lewat kakak tingkat yang pernah ikut AKSI. Kemudian saya tertarik dan belajar mandiri,” tuturnya.

Tak heran dia lolos pada program AKSI tersebut, sebelumnya ia sudah mengantongi berbagai pengalaman dan banyak menyabet juara mulai dari musabaqah, dai, dan menjadi duta berbakat Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UINSA. Sanjungan saling berdatangan dari para pembesar kotanya, mulai dari Bupat hingga walikota Mojokerto. Dirinya pun mengaku sangat senang dan tak menyangka bahwa ia akan mendapatkan hal tersebut.

Tidak hanya kemampuan non akademik, perempuan yang juga aktif di ranting IPPNU Sambiroto tersebut juga tidak lupa akan dunia akademiknya. Selain berkuliah di UINSA, dia menimba ilmu di Universitas Terbuka. Alasannya, agar ia tak hanya mendapatkan ilmu agama saja, namun juga ilmu dunia. Karena menurutnya penting untuk mengimbangi ilmu dari sisi dunia dan akhirat. Serta hal tersebut adalah impian semua orang.

“Orang tua sangat mendukung untuk berkarya. Terutama ibu yang sejak awal pendaftaran AKSI sangat mendukung karena saya punya  kemauan yang besar,” tandasnya.

Menurut Natasya, dakwah adalah sebuah seni. Tidak hanya terkait isi substansi dakwah, namun juga pada penyampainnya. Ia berharap penikmat dakwah tidak hanya tertarik dengan isinya, namun juga penyampaiannya. Lantunan tembang jawa yang menjadi hidangan pembuka pada audisi pertamanya menarik perhatian bagi siapapun yang mendengar, ditambah dengan suaranya yang merdu serta menentramkan hati.

“Jangan banyak insecure, asah hal kecil yang ada dalam dirimu. Temukan bakat yang ada pada diri kita dan coba lebih terbuka dengan diri sendiri,” ucapnya. (rin)

Post Comment