Pembelajaran Daring Akibatkan  Pernikahan Usia Dini Meningkat
BERITA

Pembelajaran Daring Akibatkan Pernikahan Usia Dini Meningkat

MediaSolidaritas.com – Pandemi Covid-19 masih terus menyebar dan tak hanya menyerang kesehatan, seluruh aspek kehidupan manusia juga terdampak oleh virus ini. Salah satunya adalah pendidikan, akibat Covid-19 kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Mulai Sekolah Dasar (SD) hingga jenjang perkuliahan, semuanya menggunakan media online. Dampaknya, banyak murid dan mahasiswa merasakan kejenuhan karena sudah hampir setahun lebih Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dilakukan secara online.

Dua bulan lalu, pada saat rapat di komisi X DPR RI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Mendikbud – Ristek) Nadiem Makarim mencemaskan dampak pembelajaran secara daring. Mantan bos Gojek tersebut khawatir, angka pernikahan usia dini meningkat jika belajar tatap muka tak segera digelar.

“Dampak permanen adalah anak bisa putus sekolah. Karena jika terus dilakukan secara daring, akan timbul persepsi orang tua bahwa mereka tidak melihat peran sekolah secara langsung. Learning lost akan berkembang jika tidak segera memulai pembelajar tatap muka terbatas,” ujar Nadiem seperti dilansir dari detik.com

Angka pernikahan dini sendiri memang cukup tinggi. Pengadilan Agama (PA) di wilayah Jawa Timur mencatat, pada tahun 2020 ada 9.453 kasus perkawinan anak di bawah umur. Angka tersebut setara dengan 4,97 persen dari total 197.068 pernikahan yang tercatat di PA setempat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Program Studi (Kaprodi) Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Ita Musarrofa menerangkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi hubungan antara meningkatnya kasus pernikahan dini dengan pembelajaran secara daring.

Menurutnya, sekolah daring bisa menjadi salah satu penyebabnya, tapi ada banyak faktor yang lebih kompleks terutama faktor lingkungan. Seperti, tuntutan tradisi, perekonomian keluarga, atau kehamilan di luar nikah. Sering juga seorang anak menikah karena adanya intervensi dari orang tua dan bukan kehendaknya.

Lebih lanjut, jika ditinjau secara hukum adanya dispensasi pernikahan juga menjadi salah satu faktor banyaknya terjadi pernikahan usia dini.

“Permasalahan dispensasi menikah seperti buah simalakama dari hukum pemerintah. Jika (dispensasi, –red) dikabulkan, maka akan semakin banyak jumlah anak yang menikah muda karena mereka telah memiliki hubungan sebelum terikat nikah. Tapi, jika pengajuan ditolak maka akan banyak yang memilih pernikahan siri,” terangnya pada Rabu (26/05).

Sementara itu, dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA, Nailatin Fauziyah mengatakan hubungan meningkatnya pernikahan usia dini dengan pembelajaran tatap muka yang harus segera digelar disebabkan aktifitas sekolah daring pada anak yang dominan dengan gadget. Karena, banyak anak yang rentan menggunakan gadget untuk bermain social media secara tidak terkontrol.

“Kerentanan juga dipicu dengan usia remaja dan perkembangan psikoseksual mulai tumbuh, artinya sensasi dengan lawan jenis secara psikologis meningkat,” tandasnya.

Untuk menanggulangi maraknya kasus pernikahan dini, dia menyarankan perlu adanya pendidikan agama dan spiritual yang tepat. Meskipun seorang anak kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak, maka bisa memperkuat pelajaran spiritualnya.

Berbeda dengan hal di atas, menurut Ita permasalahan maraknya pernikahan usia dini dapat teratasi dengan peran hukum yang tepat.

“Ada banyak aspek untuk menanggulangi permasalahan ini. Dari pendidikan yang baik oleh orang tua, ditunjang ekonomi dan hukum. Hakim juga harus lebih berhati-hati dalam memberikan dispensasi pernikahan usia dini,” ucapnya. (Tin/Fin)

Post Comment