Surabaya PPKM Level Tiga, UINSA Belum Berani Tatap Muka Terbatas
BERITA

Surabaya PPKM Level Tiga, UINSA Belum Berani Tatap Muka Terbatas

Jumat (03/09). Pembahasan mengenai pertemuan tatap muka terbatas menjadi salah satu topik yang mulai dibicarakan, tidak terkecuali di kalangan para mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Hal ini ditengarai oleh dorongan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Nadiem Makariem mengenai pelaksanakan pertemuan tatap muka terbatas.

Retmah Dwiana Hafrim, salah satu mahasiswa baru prodi Manajemen mengatakan bahwa hal ini sudah menjadi perbincangan di lingkungan prodi dan angkatannya. Namun, hal ini tidak begitu ramai dan intens karena dari pihak UINSA sendiri belum memberi pernyataan resmi. Ia juga mengatakan bahwa beberapa temannya sudah ada yang mempersiapkan hal tersebut.“Tapi, ada beberapa temen-temen yang sudah bingung nyari kos, yang sudah barengan kos, kayak gitu itu sudah banyak, sih. Ya, cukup dibicarakan karena sekarang kita tahu kalau anak SMA, anak SMP dan  anak SD itu sudah mulai masuk,” jelas Retmah Dwiana.

Nadiem mengatakan bahwa akan mendorong kegitan pertemuan tatap muka terbatas di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level satu sampai tiga. “Kami mendorong kampus-kampus yang berada di wilayah PPKM level satu sampai tiga untuk segera memberikan opsi pertemuan tatap muka terbatas kepada mahasiswa. Sementara untuk daerah di level empat, masih harus belajar dari jarak jauh,” ujar Nadiem mengutip dari Kompas.com, 31 Agustus 2021.

Kota Surabaya yang semula berada di wilayah PPKM level empat, turun menjadi level tiga. Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 35 Tahun 2021, saat ini Kota Surabaya sudah menjadi wilayah PPKM level tiga. Sehingga bisa dikatakan bahwa kampus-kampus di Kota Surabaya ada kemungkinan untuk bisa melaksanakan pertemuan tatap muka terbatas dengan persyaratan-persyaratan tertentu.

Namun untuk semester ini, UINSA masih belum bisa memastikan untuk mengadakan pertemuan tatap muka terbatas.“Sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, kami tidak berani untuk mengatakan rencana semester ini kita adakan seperti itu (pertemuan tatap muka terbatas, red). Kalau misalnya di tengah jalan dan sudah masuk daring, tetapi kemudian benar-benar aman, kita baru buat masuk. Tapi yang jelas, saya sudah menyampaikan kepada seluruh gugus pimpinan untuk siapapun agar menyiapkan segala hal dalam memasuki skenario-skenario terbaru,” ujar rektor UINSA, Masdar Hilmy.

Walaupun begitu, pihak UINSA tetap mempersiapkan segala kemungkinan-kemungkinan kedepannya. Apabila di kemudian hari UINSA bisa melaksanakan perkuliahan tatap muka terbatas, tentu saja dengan persyaratan-persyaratan tertentu. “Oh, iya, tentu saja, kan. Nggak mungkin, kalau kita ini sudah tahu belum vaksin tapi diperbolehkan kelayapan kemana-mana. Ya, itu membahayakan, tidak boleh. Harus vaksin,” ujarnya saat ditanyai mengenai diwajibkan atau tidak surat vaksin.

Masdar Hilmy beranggapan bahwa dari Kementrian Agama sendiri saat ini sudah merencanakan kebijakan mengenai masuk kuliah. “Mungkin sudah dirancang oleh para pembuat kebijakan (Kementrian Agama, red), tetapi belum disampaikan secara terbuka kepada kami. Saya yakin sudah. Ya, kita tunggu lah,” ujarnya. (tar)

Post Comment