Malam Jahanam: Karya Penuh Makna Oleh Teater Q
Sumber: Dokumentasi Teater Q
FEATURES

Malam Jahanam: Karya Penuh Makna Oleh Teater Q

MediaSolidaritas.com – Dinginnya malam hari Jumat (22/8) yang damai diberkahi cerahnya rembulan dan angin sepoi-sepoi yang sejuknya menembus hingga ke dalam ruangan Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel. Suasana sejuk semakin menusuk karena atmosfer senyap yang menggantung seisi venue, seolah mempersiapkan penonton untuk sebuah perjalanan emosional yang intens. Di hadapan mata, panggung telah disulap menjadi ruang sunyi, dihiasi dengan backdrop kain hitam dan lukisan tangan yang menjadi kanvas kreasi tim Teater Q. Setiap detail artistik, dari properti hingga kostum, memancarkan aura klasik yang jarang dijumpai di panggung kampus, memancing decak kagum dan rasa penasaran.

Malam itu, di bawah tema “Sinergi Rasa, Gaungkan Karya”, Teater Q menggelar pertunjukan tunggal yang memukau. Suasana dibuka dengan meriah oleh dua penuntun acara, dilanjutkan dengan khidmatnya lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan “Mars Budaya”. Kehangatan seni semakin terasa saat Pimpinan Produksi, Muhammad Iq Mumtaz, naik ke panggung. Bukan untuk berpidato, melainkan untuk membacakan puisi dengan penghayatan mendalam. Ekspresi wajahnya yang penuh emosi seolah menyatu dengan narasinya, menyentuh hati para penonton dan menjadi pembuka yang sempurna.

Ketua Umum Teater Q, Achmad Fitrah Maulana, hadir menggarisbawahi esensi dari pementasan ini. Baginya, pertunjukan ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah manifestasi dari kolaborasi erat dan proses panjang.

“Kami selalu ingin berkarya dalam bentuk apa pun, baik itu dalam segi seni ataupun sebuah pesan-pesan hidup,” ujarnya, menegaskan komitmen Teater Q untuk terus berekspresi.

Sebelum tirai utama dibuka, penonton disuguhi persembahan yang menunjukkan identitas Teater Q yang multidimensi. Alunan yang menggetarkan ruangan dari tim perkusi, diikuti dengan tarian gebyar oleh tiga penari perempuan yang anggun, membangkitkan antusiasme. Seperti yang diungkapkan oleh Iq Mumtaz, pementasan ini adalah cara Teater Q menyambut mahasiswa baru, memperkenalkan diri sebagai wadah seni yang tak hanya berisi drama, tetapi juga puisi, tari, dan musik.

Akhirnya, sorot lampu menyinari panggung. Pementasan “Malam Jahanam” karya Motinggo Boesje pun dimulai, diiringi instrumen musik yang menambah sensasi dan kedalaman suasana. Naskah ini, yang berkisah tentang perselingkuhan, kepercayaan, dan pengkhianatan, dipilih secara sengaja oleh sang sutradara, Ershauliya Najwa Azkiya.

“Alasan saya memilih Malam Jahanam karena menurut saya bagus dan keren,” jelas Najwa.

Namun, lebih dari itu, ia melihat relevansi kuat dengan maraknya kasus perselingkuhan di era modern, sebuah cermin bagi realitas sosial yang tak pernah usang.

Melalui pementasan ini, Najwa ingin menyampaikan pesan penting tentang kepercayaan. Ia menyoroti ironi dalam karakter Mat Kontan yang mempercayai Soleman dan Paijah, namun justru dikhianati.

“Saya berharap ke penonton bisa menjaga kepercayaan satu sama lain,” ujarnya, mengingatkan bahwa integritas adalah fondasi yang rapuh jika tak dijaga.

Baginya, adegan paling krusial adalah ketika Soleman membongkar rahasia bahwa anak yang dikira anak kandung Mat Kontan ternyata adalah anaknya.

“Di situ bagian klimaks. Jadi itu yang paling penting, paling seru juga di mana semua kebongkar,” ungkapnya, menunjukkan pemahaman mendalamnya terhadap naskah.

Proses latihan hanya berlangsung sebulan lebih menjadikan karya ini penuh tantangan. Namun, Najwa bersyukur atas semangat sinergi yang diusung tim. Selain itu, bantuan dan dukungan dari seluruh anggota Teater Q membuktikan bahwa seni tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus tumbuh dari kolaborasi.

“Banyak sekali kekurangan yang jadi berkurang gitu,” imbuhnya, menggambarkan bagaimana setiap kekurangan diatasi bersama.

Di balik gemerlap panggung, tim produksi bekerja layaknya mesin tak terlihat. Mumtaz, sang pimpinan produksi, mengakui bahwa dengan jumlah anggota yang terbilang sedikit, mereka harus saling bahu-membahu. Tim humas, misalnya, harus bekerja ekstra untuk menyebarkan undangan ke komunitas teater di seluruh Jawa Timur.

“Itu yang agak susah karena dengan waktu yang 1 bulan lebih sedikit kita mengundang orang banyak dengan berbagai golongan itu kan susah,” kata Mumtaz.

Tantangan serupa dihadapi oleh tim perlengkapan yang harus meminjam properti dari berbagai teater lain, bahkan hingga ke Madura. Namun, kerja keras mereka tak sia-sia. Pementasan ini berhasil menarik lebih dari 380 penonton, menunjukkan antusiasme yang luar biasa.

Salah satu penonton, Mochammad Ilham Bintang, sangat terkesan dengan aspek artistik pementasan. “Dengan eksperimen artistik yang luar biasa membuat saya terkesan dan bertanya tanya akan proses membangun properti secara demikian,” ujarnya. Bintang juga memuji pendalaman karakter yang membuat alur cerita mudah dipahami, meski durasinya panjang.

Para aktor di panggung juga menjalani proses yang intens. Tahta Dhila Naufal Arromdhoni, pemeran Mat Kontan, menemukan tantangan terbesar di adegan awal bersama lawan mainnya, Soleman.

“Itu saya sedikit merasa kesusahan daripada ketika latihan saat ending,” akunya.

Namun, melalui proses bedah naskah dan observasi, Naufal berhasil membangun karakternya yang kompleks sebagai sosok yang lalai dan egois. Ia ingin menyampaikan pesan kepada penonton agar tidak mencontoh sifat sembrono tersebut.

Sementara itu, Muhammad Afif Hidayatullah, pemeran Soleman, menjelaskan dinamika perannya. Ia harus mengimbangi energi Mat Kontan di awal, namun mengambil alih sebagai pengarah arus cerita saat berhadapan dengan Paijah. Afif memaknai karakternya sebagai Soleman yang trauma akan perselingkuhan. Ia ingin menyampaikan pesan kepada penonton bahwa tidak boleh takut untuk membuka lembaran baru dan harus melawan trauma masa lalu dengan menghadapinya. Pesan itu merupakan sebuah ironi yang mendalam dari karakter yang telah mengkhianati orang lain.

Pesan yang dibawa pulang oleh penonton pun tak kalah berharga. Ilham Bintang merasa bahwa pementasan ini dengan kuat menyoroti isu perselingkuhan dan egoisme dalam rumah tangga. Adegan pertemuan Soleman dan Paijah paling membekas baginya, karena mengingatkan pada pengalaman pribadinya.

“Mat kontan seharusnya menjadi tamparan keras bagi pria dengan sikap dan karakter demikian,” pungkasnya, sebuah refleksi mendalam yang berhasil disampaikan oleh pertunjukan.

Di akhir jawabnya, Ketua Umum Teater Q, Achmad Fitrah Maulana, memberikan pesan mendalam bagi seluruh anggota. Ia menekankan bahwa hal yang paling penting adalah proses dalam berkarya, bukan semata-mata hasil.

“Urusan hasil itu, ya kita tidak ada yang tahu seperti apa,” tuturnya. Ia percaya bahwa konsistensi dan kerja keras selama proses akan membawa hasil yang baik, meskipun tidak ada hasil yang sempurna. “Saya tidak peduli dengan hasil apa pun, meskipun itu baik atau buruk.” 

Pernyataan ini merangkum semangat Teater Q: sebuah komunitas yang tidak hanya berfokus pada pementasan, tetapi juga pada perjalanan, pertumbuhan, dan kolaborasi. Melalui “Malam Jahanam,” mereka tidak hanya menghadirkan sebuah pertunjukan, tetapi juga sebuah pelajaran berharga tentang seni, kehidupan, dan makna di balik setiap proses kreatif.

Penulis: Bima Satrya Agnas

Editor: Nurlaily Zuhrah

Post Comment