Sejumlah Mahasiswa Gelar Aksi Simbolik Usai Dialog Konstitusi oleh Anwar Usman di UINSA
Sejumlah mahasiswa membawa banner usai acara dialog konstitusi di area luar gedung
BERITA

Sejumlah Mahasiswa Gelar Aksi Simbolik Usai Dialog Konstitusi oleh Anwar Usman di UINSA

Mediasolidaritas.com – Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar aksi simbolik sebagai bentuk kekecewaan terhadap pelaksanaan acara ‘Dialog Konstitusi’ yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UINSA Surabaya melalui Pusat Studi Konstitusi dan Legislasi (Puskolegis) dengan menghadirkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman sebagai pembicara pada Jumat (24/10/2025).

Selain mempertanyakan pemilihan narasumber, sebagian mahasiswa juga menyoroti keterbatasan kapasitas ruangan yang membuat banyak peserta tidak dapat mengikuti kegiatan secara langsung.

Dari 379 pendaftar, hanya sekitar 150 orang yang bisa masuk ke dalam forum. Beberapa mahasiswa yang tidak mendapat tempat di dalam gedung memilih menunggu di luar.

Setelah acara berakhir, sekelompok mahasiswa kemudian menggelar aksi simbolik di area luar gedung saat Anwar Usman meninggalkan lokasi. Mereka membentangkan spanduk dan menyampaikan orasi singkat sebagai bentuk kritik terhadap kegiatan bertema “Dari Konstitusi ke Keadilan: Kiprah Mahkamah Konstitusi dalam Menjaga Hak Warga Negara.”

Salah satu mahasiswa yang enggan disebut namanya menyampaikan bahwa aksi itu muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemilihan narasumber.

“Kita sebagai mahasiswa hukum terutama ya pastinya sangat kecewa, selaku penggiat atau bisa dibilang mempermainkan konstitusi, dan itu masih saja diundang atau dijadikan pemateri dengan pembahasan soal keadilan,” tuturnya.

“Dia aja ga menegakkan keadilan. Tapi malah disuruh ngisi materi soal keadilan. Itu kan jadi sebuah pertanyaan bagi kita. Ataukah ada kepentingan lain atau apa? Kita juga enggak tahu,” imbuhnya.

Mahasiswa tersebut menilai tema yang diangkat tidak relevan dengan sosok pembicara. Ia berharap kegiatan serupa dapat dikemas lebih terbuka agar menjadi ruang dialog yang kritis dan seimbang.

“Format acaranya bisa dibuat lebih terbuka lagi dan temanya juga harus yang relevan. Semisal dibuat diskusi terbuka dengan Bapak Anwar Usman membahas kenapa hal seperti itu bisa terjadi, itu akan lebih baik dan menjunjung nilai keadilan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan adanya pembatasan bagi mahasiswa yang ingin menyuarakan pendapat saat kegiatan berlangsung.

“Ada dosen dan juga satpam yang seolah-olah menanyakan kenapa kok ini? Karena kayak gitu kan dibatasi kita untuk berbicara. Padahal kita berhak menyampaikan pendapat sebagaimana diatur dalam konstitusi,” terangnya.

Meski demikian, mahasiswa tersebut menegaskan bahwa aksi yang dilakukan berlangsung damai.
“Kita juga sudah bilang bahwa ini tidak ada aksi kekerasan atau apa. Kita murni menyampaikan pendapat saja,” katanya.

Menanggapi aksi tersebut, Marli Candra selaku dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) sekaligus panitia acara menanggapi dalam pesan WhatsApp bahwa perdebatan atau kritik seharusnya disampaikan dalam ruang akademik.

“Biasa aja sih, cuma kurang tepat. Harap saya, perdebatan ada di ruang akademik,” ujarnya melalui pesan singkat.

Marli juga menegaskan bahwa kehadiran Anwar Usman di UINSA merupakan bagian dari kegiatan resmi MK yang bekerja sama dengan kampus.

“Padahal kunjungan beliau atas nama MK, dan UINSA (karena ada kerja sama) diberikan kesempatan untuk memfasilitasi acara seminar,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa perbedaan pandangan seharusnya tidak disertai nada yang menyerang.

“Perdebatan seharusnya dalam ranah akademik, bukan dalam bentuk cacian,” imbuhnya.

Penulis : Ahmad Muharrik Albirra, Bima Satrya Agnas
Editor : Dewi Aisyah Alya

Post Comment