Seminar Jurnalistik LPM Solidaritas : Perempuan, Media, dan Kata yang Menggugat
Pemaparan materi Strategi Membangun Media Alternatif yang Adil Gender oleh Hanaa Septiana
KABAR SOLIDARITAS

Seminar Jurnalistik LPM Solidaritas : Perempuan, Media, dan Kata yang Menggugat

Seminar Jurnalistik LPM Solidaritas : Perempuan, Media, dan Kata yang Menggugat
Mediasolidaritas.com— Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas menyelenggarakan seminar jurnalistik bertajuk ‘Perempuan, Media, dan Kata yang Menggugat’ pada Senin (1/9) 2025 di Self Access Center (SAC) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) A.Yani. Acara yang dijadwalkan mulai pukul 07.30 WIB ini berlangsung hingga siang hari.

Seminar yang mengambil tema ‘Strategi Menghadapi Bias dan Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan’ tersebut dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai mahasiswa semester ganjil. Tidak hanya mahasiswa UINSA, tetapi mahasiswa undangan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) serta LPM dari tingkat fakultas maupun universitas lain turut hadir sehingga forum berjalan dengan cukup interaktif.

Ira Rachmawati menjadi narasumber pertama dalam acara ini. Pembicara yang diketahui merupakan seorang asisten editor regional Kompas.com tersebut memaparkan pengalaman Perempuan dalam dunia media. Dalam paparannya yang bertajuk ‘Suara Jurnalis Perempuan’, Ira mengusung realitas stigma gender yang sering dialami oleh perempuan di ruang redaksi maupun di lapangan.

“Banyak jurnalis perempuan masih dianggap kurang kuat untuk liputan berat, sehingga perannya sering dibatasi hanya pada isu lifestyle atau human interest, bukan politik maupun konflik,” tutur Ira.

Ia juga menyoroti betapa tingginya risiko pelecehan dan kekerasan yang menjadi ancaman terhadap jurnalis perempuan, baik di wilayah konflik, bencana, maupun daerah terpencil. Baginya, situasi darurat kerap kali membuat jurnalis perempuan lebih rentan terhadap pelecehan dan intimidasi, baik dari aparat, narasumber, bahkan rekan kerja.

Lebih jauh, Ira memaparkan bahwa terdapat banyak kasus yang tidak dilaporkan akibat tidak adanya mekanisme pengaduan yang jelas.

“Mereka seringkali lebih memilih diam karena takut merusak karier atau tidak dipercaya. Ini yang membuat kasus pelecehan terus berulang dan dinormalisasi bahkan oleh sesame perempuan tanpa ada penyelesaian,” jelasnya.

Di sisi lain, Ira turut mengungkapkan keunggulan yang dimiliki jurnalis perempuan. Melalui sensitivitas sosial dan akses yang lebih baik kepada narasumber perempuan, liputan yang dihasilkan seringkali lebih menyentuh dan humanis.

“Liputan jurnalis perempuan mampu mematahkan stereotip bahwa isu berat hanya bisa dikerjakan laki-laki,” tambahnya.

Selanjutnya, Hana Septiana sebagai narasumber kedua membawakan topik mengenai ‘Strategi Membangun Media Alternatif yang Adil Gender’. Sebagai jurnalis Tempo sekaligus anggota dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Hana memaparkan hasil survey AJI yang menunjukkan bahwa 82,6 persen jurnalis perempuan di Indonesia pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual. Di samping itu, jumlah jurnalis perempuan masih terbilang rendah, hanya sekitar 25 persen dari total keseluruhan.

“Media perlu membuat perubahan struktur internal, dimulai dari perekrutan. Apabila kesadaran gender dipertimbangkan, akan tercapai keseimbangan antara jurnalis laki-laki dan perempuan,” jelas Hana.

Ia juga menjelaskan pentingnya kebijakan internal redaksi yang inklusif, seperti menyediakan SOP pencegahan kekerasan seksual, pedoman pemberitaan ramah gender, hingga ruang laktasi bagi pekerja perempuan.

“Redaksi ramah gender akan menghasilkan berita yang sensitif gender. Itu artinya publik mendapat informasi yang lebih adil dan berimbang,” ujarnya.

Sebagai tambahan, Hana memaparkan bahwa bias editorial perlu dicegah. Ia mencontohkan praktik redaksi yang seringkali hanya mementingkan page views sehingga mengorbankan kedalaman dan keberpihakan.

“Pelatihan jurnalistik dari tingkatan reporter hingga pimpinan redaksi sangat penting supaya perspektif gender tertanam dalam setiap proses pemberitaan,” ujarnya.

Tasha Fradilla selaku pimpinan umum LPM Solidaritas menjelaskan, seminar ini bertujuan membuka ruang diskusi kritis terkatit dengan tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan, yang dalam saat bersamaan akan mendorong kesadaran peserta untuk memiliki perspektif setara dalam karya jurnalistik.

Dua sudut pandang berupa pengalaman di lapangan dari Ira Rachmawati dan strategi kelembagaan dari Hana Septiana, kapasitas peserta diharapkan dapat semakin menguat dengan adanya seminar ini.

“Semoga forum ini tidak berhenti pada sekadar diskusi, namun juga menjadi pemantik suatu perubahan dalam ruang redaksi mahasiswa maupun media pada umumnya,” ungkap Nurul Huda sebagai ketua pelaksana seminar ini.

Acara ditutup dengan sharing session sekaligus tanya jawab. Peserta maupun panitia tampak antusias membagikan pengalaman sekaligus mengajukan pertanyaan seputar mekanisme perlindungan jurnalis, strategi melawan stereotip, hingga berbagi pengalaman terkait bagaimana pers mahasiswa dapat mengadopsi kebijakan adil gender di lingkungannya.

Dengan seminar ‘Perempuan, Media, dan Kata yang Menggugat’, LPM Solidaritas memperkuat komitmennya untuk terus menyajikan isu-isu kritis dan progresif dalam ranah akademik yang berbasis sensitif gender.

Penulis : Adzkia Nabila
Editor : Dewi Aisyah Alya

Post Comment